Agenda Hari Kelima SAMI Membahas Strategi Tata Kelola Untuk Ketahanan Terhadap Perubahan Iklim Serta Mekanisme Keuangan Berkelanjutan
Agenda Hari Kelima SAMI Membahas Strategi Tata Kelola Untuk Ketahanan Terhadap Perubahan Iklim Serta Mekanisme Keuangan Berkelanjutan
Agenda hari kelima diselenggarakan pada hari Jumat, 31 Juli 2026 berfokus pada eksplorasi implementasi ESG, strategi tata kelola untuk ketahanan terhadap perubahan iklim, serta mekanisme keuangan berkelanjutan untuk mendukung keberlanjutan pangan.

Rangkaian kegiatan dimulai pukul 09.00–10.30 WIB melalui Course 9 bertajuk “ESG-Driven Business Model & Innovation in Agrifood”. Sesi ini dimoderatori oleh Diki Akhwan Mulya, S.E., M.Si., dengan Dr. Indra R. Sembiring, S.E., M.M. dari IPB University sebagai pembicara. Pembicara menekankan bahwa ESG harus diintegrasikan ke dalam strategi inti bisnis, bukan sekadar digunakan sebagai bentuk greenwashing, dengan tata kelola berperan sebagai pengaman utama untuk menjaga kredibilitas. Dr. Indra menjelaskan empat tema utama inovasi, yaitu agribisnis regeneratif, ketertelusuran berbasis blockchain/AI, startup dan perusahaan sosial, serta kerangka penilaian lapangan. Selain itu, Dr. Indra memperkenalkan konsep “Digitainability”, yaitu perpaduan antara digitalisasi dan keberlanjutan, serta menekankan urgensi pemenuhan standar global seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang akan berlaku pada Desember 2026.

Kegiatan dilanjutkan pada pukul 13.30–15.00 WIB melalui Course 10 yang bertajuk “Rules, Culture, and Responsibility: Governance Strategies for Climate-Resilient Agrifood Systems”. Sesi ini dimoderatori oleh Nurul Hidayati, S.E., M.Si., dan menghadirkan Prof. Dr. Carola Jungwirth dari University of Passau, Jerman. Dalam presentasinya, Prof. Dr. Carola Jungwirth mengeksplorasi bagaimana regulasi formal, norma budaya, dan tanggung jawab para pemangku kepentingan saling berinteraksi dalam membangun sistem agrifood yang tangguh. Ia menyoroti lima kapasitas utama ketahanan, yaitu mencegah, mengantisipasi, menyerap dampak, beradaptasi, dan bertransformasi. Ia juga menekankan pentingnya kerangka tata kelola yang inklusif dalam melindungi petani kecil dari guncangan iklim dan kerentanan pasar.

Sesi sore ditutup pada pukul 15.30–17.00 WIB melalui Course 11 yang bertajuk “Sustainable Finance for Agricultural Sector”. Sesi ini dimoderatori oleh Hafizi, S.Ak., M.Sc., dengan Rezza F. Prisandy, PhD dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai pembicara. Ia menjelaskan bagaimana pembiayaan hijau dan kebijakan regulasi, termasuk POJK 51/2017 dan POJK 18/2023, dapat memobilisasi modal untuk proyek pertanian yang cerdas iklim dan inklusif. Ia juga menjelaskan implementasi Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) untuk membantu lembaga jasa keuangan mengklasifikasikan dan membiayai kegiatan hijau maupun kegiatan transisi di sektor pertanian. (SAMI, 2026)





Users Today : 363
Users Yesterday : 239
Users Last 7 days : 3212
Users This Month : 3212
Users This Year : 100974
Total Users : 166172
Who's Online : 2