Departemen Manajemen

Dosen Departemen Manajemen FEM IPB Dampingi UMKM Pangan Desa Cibadak Standarkan Produksi Demi Keberlanjutan Usaha

Cibadak1

Dosen Departemen Manajemen FEM IPB Dampingi UMKM Pangan Desa Cibadak Standarkan Produksi Demi Keberlanjutan Usaha

Bogor, 23 Juni 2026 — Tim Program Dosen Mengabdi dari Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB menyelenggarakan pelatihan dan pendampingan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pangan di Desa Cibadak, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, pada Selasa 23 Juni 2026. Kegiatan yang berlangsung di Kantor Desa Cibadak ini mengusung tema “Dari Produk ke Warisan: Pendampingan UMKM Pangan Desa Cibadak dalam Standardisasi Proses Produksi dan Perencanaan Keberlanjutan Usaha Keluarga.”

Pelaihan ini diikuti oleh 11 pelaku UMKM pangan dengan jenis usaha yang beragam, mulai dari kue tradisional, risol, katering, kue kering, pastry, bakso, tahu, hingga tape uli. Program ini merupakan bagian dari komitmen FEM IPB dalam mendukung penguatan ekonomi masyarakat melalui peningkatan kapasitas usaha berbasis potensi lokal.

Tim dosen mengabdi terdiri atas Andita Ramadhanti, S.E., M.MT sebagai ketua tim, bersama Nurhadi Wijaya, S.TP., M.M, Nesti Handayani, S.P., serta mahasiswa pendamping Naila Hafizah Arrida dan Wulandari. Melalui pendekatan berbasis teori manajemen produksi dan operasi, tim memberikan pelatihan yang aplikatif dan relevan dengan kondisi riil UMKM di desa.

Berdasarkan hasil pendataan lapangan, semua peserta bergerak di sektor pangan yang telah berdiri antara 3 hingga 27 tahun. Meski telah beroperasi cukup lama, sebagian besar UMKM masih menghadapi tantangan serupa, terutama pada aspek pemasaran, keterbatasan modal, ketahanan produk, dan belum adanya standardisasi proses produksi. Sebanyak 7 dari 11 UMKM mengalami kendala pemasaran dan yang berdampak pada belum optimalnya volume pesanan. Sementara itu, 5 UMKM menghadapi keterbatasan modal dan fluktuasi harga bahan baku. Selain itu, sebagian besar proses produksi masih bergantung sepenuhnya pada pemilik usaha sehingga sulit didelegasikan. Kondisi ini memicu diskusi interaktif di antara para peserta yang saling berbagi cerita mengenai kendala masing-masing untuk mencari solusi bersama.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, para peserta diperkenalkan pada konsep rantai nilai (value chain) untuk membantu memetakan aktivitas usaha dari hulu ke hilir, mulai dari pengadaan bahan baku, proses produksi, logistik, pemasaran, hingga layanan purnajual. Melalui pemetaan ini, mereka diajak mengidentifikasi titik kritis yang selama ini menghambat efisiensi operasional usaha dan kualitas produk.

Dalam kesempatan ini, Nurhadi Wijaya juga membedah bisnis dari perspektif produsen dan konsumen. Beliau menekankan pentingnya pelaku usaha untuk mengevalasi pola pikir operasional mereka. “Kalau mau usaha maju, kita harus cari tahu apa yang konsumen mau dan butuhkan, bukan berjalan mengikuti bagaimana kemauan kita sebagai produsen,” tegasnya.

Selain penguatan rantai nilai, tim pengabdian juga memberikan materi mengenai standardisasi operasional dan manajemen mutu produk pangan. Peserta dibekali delapan langkah praktis menjaga kualitas produk, meliputi pengecekan bahan baku, pencatatan suhu produksi, kebersihan area kerja, pelabelan tanggal produksi, hingga evaluasi rutin terhadap keluhan pelanggan. Langkah-langkah ini diharapkan dapat membantu pelaku UMKM menghasilkan produk yang lebih konsisten, higienis, dan memiliki daya tahan lebih baik.

Salah satu fokus utama pelatihan adalah penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) sederhana untuk masing-masing usaha. SOP ini mencakup takaran bahan, tahapan produksi, waktu dan suhu pengolahan, standar hasil, serta metode penyimpanan produk. Dengan adanya panduan tertulis tersebut, proses produksi tidak lagi hanya bergantung pada ingatan pemilik, tetapi dapat ditransfer kepada anggota keluarga atau calon penerus usaha.

“Banyak UMKM memiliki produk yang berkualitas, tetapi proses produksinya masih berbasis pengalaman dan belum terdokumentasi. SOP sederhana menjadi fondasi penting agar kualitas tetap terjaga dan usaha dapat terus berjalan ketika dikelola oleh generasi berikutnya,” ujar Andita Ramadhanti selaku ketua tim.

Tidak hanya berfokus pada operasional produksi, tim pengabdian juga menekankan pentingnya adaptasi pemasaran digital. Para pelaku usaha didorong untuk mulai memanfaatkan platform digital seperti WhatsApp, Instagram, TikTok, maupun marketplace serta layanan pesan antar untuk memperluas jangkauan pasar. Strategi ini dinilai penting mengingat masih banyak dari mereka yang mengandalkan pemasaran konvensional di lingkungan sekitar tempat tinggal.

Sebagai tindak lanjut, peserta juga diperkenalkan dengan indikator evaluasi kinerja usaha sederhana, seperti omzet bulanan, margin laba, tingkat retur produk, dan kepuasan pelanggan. Evaluasi berkala melalui indikator ini diharapkan membantu pelaku usaha mengambil keputusan yang lebih terukur berbasis data untuk pengembangan bisnis.

Melalui kegiatan pengabdian ini, Departemen Manajemen FEM IPB berharap pelaku UMKM Desa Cibadak dapat memperkuat daya saing usaha melalui perbaikan kualitas produk, efisiensi operasional, serta strategi pemasaran yang lebih adaptif. Lebih jauh, program ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun UMKM yang tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu tumbuh secara berkelanjutan dan diwariskan lintas generasi. (NH, 2026)

July 2026
M T W T F S S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Archives

Translate »