Dosen IPB University Dorong Pengembangan Geoproduk di Kawasan Geopark Bogor Halimun Salak-Desa Cibadak
Dosen IPB University Dorong Pengembangan Geoproduk di Kawasan Geopark Bogor Halimun Salak-Desa Cibadak
Bogor, 17 Juni 2026 — Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Identifikasi Pengembangan Geoproduk di Kawasan Wisata Gunung Karst Cibodas Cibadak Kawasan Geopark Nasional Bogor Halimun Salak” pada hari Rabu, 17 Juni 2026 di Ruang Rapat Desa Cibadak, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Dosen Mengabdi Departemen Manajemen Tahun 2026.
FGD ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi geoproduk yang dapat dikembangkan di kawasan wisata Gunung Karst Cibodas Cibadak sebagai upaya meningkatkan nilai ekonomi lokal sekaligus memperkuat daya tarik kawasan Geopark Nasional Bogor Halimun Salak. Melalui diskusi partisipatif, kegiatan ini juga menjadi wadah untuk menghimpun masukan dari berbagai pemangku kepentingan terkait strategi pengembangan produk unggulan berbasis potensi lokal.
Kegiatan menghadirkan berbagai unsur masyarakat dan pemangku kepentingan, antara lain Pemerintah Desa Cibadak, pengurus Kelompok Tani Hutan (KTH) Cibadak Ramah Hijau, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), ketua RW, serta tokoh masyarakat setempat. Kehadiran berbagai pihak tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi multipihak dalam mendukung pembangunan kawasan berbasis sumber daya lokal.
Tim narasumber dari Departemen Manajemen FEM IPB University yang terlibat dalam kegiatan ini terdiri atas Dr. Jono M. Munandar, Hardiana Widyastuti, S.Hut,MM, M. Syaefudin Andrianto, STP,MM dan Hafizi, Ak,M.sc, didukung oleh tenaga kependidikan Departemen Manajemen. Para narasumber menggali potensi produk khas kawasan yang dapat diangkat sebagai geoproduk unggulan, termasuk peluang pengembangan produk berbasis hasil alam, budaya lokal, dan ekonomi kreatif masyarakat.

Dalam diskusi, tim IPB University memaparkan tahapan identifikasi geoproduk, mulai dari pemetaan potensi kawasan, inventarisasi produk eksisting, analisis kesesuaian, penentuan prioritas, hingga penyusunan roadmap pengembangan lima tahun. Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan produk unggulan khas Desa Cibadak yang memiliki daya saing pasar sekaligus memperkuat identitas kawasan geopark.
Salah satu temuan penting FGD adalah besarnya potensi warisan geologi dan sejarah Desa Cibadak. Berdasarkan informasi dari kesepuhan desa, kawasan ini memiliki lima arca purba yang diperkirakan berusia sekitar 6.000 tahun dan tersebar di beberapa titik pegunungan. Beberapa di antaranya adalah arca Dewa Wisnu di Paninjoan dan Dayang Sumi di Arca Satu. Saat ini, artefak asli disimpan di museum untuk tujuan konservasi. Potensi ini dinilai sangat kuat untuk dikembangkan sebagai storytelling asset wisata melalui replika arca, narasi sejarah digital, hingga media edukasi berbasis video.
Selain warisan geologi, Desa Cibadak juga memiliki kekayaan budaya yang erat dengan sejarah Tarumanagara. Kawasan Taman Ratu bahkan disebut memiliki bentuk menyerupai punden berundak. Tim FGD juga melihat peluang penguatan wisata budaya melalui kolaborasi dengan seniman lokal, termasuk pertunjukan wayang golek yang mengangkat sejarah tanah Cibadak sebagai daya tarik wisata edukatif.
Dari aspek biodiversitas, masyarakat mengidentifikasi sejumlah komoditas potensial yang dapat menjadi geoproduk unggulan. Komoditas tersebut meliputi jahe merah, cabai hias warna-warni, kapulaga, dan kopi lokal. Jahe merah dinilai berpotensi dikembangkan menjadi minuman herbal khas kawasan, sedangkan cabai hias memiliki nilai tambah dari sisi estetika dan dapat menjadi daya tarik visual bagi wisatawan. Produk-produk tersebut dinilai memenuhi kriteria geoproduk karena khas kawasan, memiliki nilai ekonomi, ramah lingkungan, dan memiliki cerita yang kuat.
Melalui kegiatan ini, Departemen Manajemen FEM IPB University berharap dapat mendorong lahirnya model pengembangan geoproduk yang berkelanjutan, inklusif, dan berbasis masyarakat. Hasil FGD ini selanjutnya akan menjadi dasar dalam penyusunan strategi pendampingan dan pengembangan usaha masyarakat di Desa Cibadak, sehingga potensi lokal dapat dioptimalkan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan kawasan geopark.

Dalam FGD, peserta juga menyoroti pentingnya sinkronisasi pengelolaan kawasan karena sebagian lahan berada di area latihan militer. Hal ini menuntut koordinasi lintas sektor agar pengembangan desa wisata tetap berjalan dengan memperhatikan aspek keamanan, aksesibilitas, dan perencanaan ruang kawasan.
Sebagai tindak lanjut, tim pengabdian bersama pemerintah desa menyepakati beberapa langkah strategis, antara lain pembaruan dokumen kerja sama antara desa dan IPB University, pendataan profil UMKM, perbaikan fasilitas wisata melalui gotong royong, serta penyelenggaraan event pemantik untuk membangun kembali kesadaran publik terhadap potensi wisata Cibadak. Strategi promosi digital melalui media sosial dan penguatan branding geoproduk juga akan menjadi fokus utama dalam tahap berikutnya.
Melalui program ini, FEM IPB University menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi masyarakat dalam membangun ekosistem desa wisata yang berkelanjutan. Pengembangan geoproduk diharapkan tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan, memperkuat identitas budaya lokal, serta menjadikan Desa Cibadak sebagai salah satu model pengembangan geopark berbasis masyarakat di Indonesia. (NH, 2026)






Users Today : 99
Users Yesterday : 596
Users Last 7 days : 4168
Users This Month : 5718
Users This Year : 80872
Total Users : 146070
Who's Online : 0