Hari Ketiga International Short Course 2026
Hari Ketiga International Short Course 2026 Bahas Awal Kolonialisme, VOC, dan Terbentuknya Hindia Belanda
Berita/Pendidikan
Bogor, 05 Agustus 2026 – Rempah-rempah tidak hanya mengubah jalur perdagangan dunia, tetapi juga mengubah arah sejarah Indonesia. Kekayaan alam Nusantara menjadikan kepulauan ini sebagai pusat perhatian bangsa-bangsa Eropa yang berlomba menemukan jalur pelayaran menuju Asia. Dari perdagangan rempah lahirlah persaingan maritim, ekspansi kekuasaan, hingga terbentuknya sistem kolonial yang memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan ekonomi, politik, dan pemerintahan Indonesia.
Pembahasan mengenai perjalanan sejarah tersebut menjadi fokus pada hari ketiga International Short Course 2026 bertema Indonesian Economic and Management History: Lessons for the Future, yang diselenggarakan oleh Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University bekerja sama dengan Leibniz University of Hannover (Jerman), University of Passau (Jerman), dan Universitas Padjadjaran.
Hari ketiga menghadirkan dua sesi utama, yaitu “Colonialism, Colonial Regimes, and Colonial States” serta “Indonesia, VOC, Dutch East Indies, and French and British Interventions”, yang disampaikan oleh Prof. Hermann Waibel dari Leibniz University of Hannover.
Pada sesi pertama, Prof. Waibel mengajak peserta menelusuri asal-usul kolonialisme dari perspektif global. Ia menjelaskan bahwa kolonialisme tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan hasil dari hubungan perdagangan antara Eropa dan Asia yang telah berlangsung sejak masa Kekaisaran Romawi. Memasuki abad ke-15 hingga ke-16, kebutuhan bangsa-bangsa Eropa akan rempah-rempah, emas, dan komoditas bernilai tinggi mendorong lahirnya era penjelajahan samudra. Kemajuan teknologi pelayaran, persaingan antarkerajaan Eropa, serta misi penyebaran agama menjadi faktor utama yang mendorong ekspansi ke berbagai wilayah di Asia.
“Untuk memahami kolonialisme, kita harus terlebih dahulu memahami hubungan antara Eropa dan Asia. Kolonialisme tidak dimulai dari pendudukan wilayah, melainkan dari perdagangan, penyebaran agama, dan persaingan antarbangsa Eropa.” ujar Prof. Hermann Waibel.
Prof. Waibel menjelaskan bahwa persaingan antara Portugal, Spanyol, Belanda, Inggris, dan Prancis menjadikan Asia Tenggara sebagai pusat perebutan pengaruh. Nusantara yang kaya akan rempah-rempah menjadi salah satu wilayah paling strategis sehingga perdagangan perlahan berkembang menjadi penguasaan wilayah dan pembentukan rezim kolonial.
Sesi kedua membahas secara khusus perkembangan kolonialisme di Indonesia melalui Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan Hindia Belanda (Dutch East Indies). Peserta mempelajari bagaimana VOC yang semula didirikan sebagai perusahaan dagang memperoleh hak istimewa untuk memonopoli perdagangan, membangun benteng, membuat perjanjian, hingga melakukan peperangan. Seiring berjalannya waktu, VOC berkembang menjadi kekuatan politik yang menguasai berbagai wilayah di Nusantara. Setelah VOC dibubarkan pada tahun 1799, pemerintah Belanda mengambil alih seluruh asetnya dan membentuk Hindia Belanda sebagai pemerintahan kolonial resmi.
“VOC pada awalnya datang sebagai perusahaan dagang, tetapi seiring waktu berkembang menjadi kekuatan politik. Dari sinilah perdagangan perlahan berubah menjadi pemerintahan kolonial.” jelas Prof. Hermann Waibel.
Selain membahas dominasi Belanda, Prof. Waibel juga menjelaskan peran Inggris dan Prancis dalam dinamika kolonial di Asia Tenggara. Inggris memperluas pengaruhnya melalui India hingga Semenanjung Malaya, sedangkan Prancis mengembangkan kekuasaannya di kawasan Indochina. Pembahasan ini memberikan gambaran bahwa sejarah kolonial Indonesia merupakan bagian dari persaingan geopolitik global yang melibatkan berbagai kekuatan maritim dunia.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung interaktif. Salah satu peserta menanyakan alasan Thailand tidak pernah dijajah secara langsung oleh bangsa Eropa. Menanggapi pertanyaan tersebut, Prof. Waibel menjelaskan bahwa keberhasilan Thailand mempertahankan kemerdekaannya lebih dipengaruhi oleh strategi diplomasi dan posisinya sebagai buffer state di antara wilayah kekuasaan Inggris dan Prancis.
“Thailand dapat mempertahankan kemerdekaannya karena Inggris dan Prancis tidak ingin menciptakan konflik langsung satu sama lain. Menjadikan Thailand sebagai negara penyangga merupakan pilihan yang lebih menguntungkan bagi kedua pihak” ungkap Prof. Hermann Waibel.
Sebagai penutup kegiatan hari ketiga, panitia membagikan lembar pertanyaan secara acak (random question sheet) kepada seluruh peserta sebagai panduan untuk kegiatan field visit yang akan dilaksanakan pada hari berikutnya di Kebun Raya Bogor dan Museum Tanah dan Pertanian. Melalui pertanyaan tersebut, peserta diharapkan mampu menghubungkan materi yang telah dipelajari di kelas dengan hasil pengamatan langsung di lapangan, khususnya mengenai sejarah pengelolaan sumber daya alam, perkembangan pertanian, dan warisan kolonial yang masih dapat ditemukan hingga saat ini.
Melalui pembelajaran hari ketiga, peserta memperoleh pemahaman bahwa kolonialisme bukan sekadar sejarah penjajahan, tetapi merupakan hasil interaksi antara perdagangan global, kemajuan teknologi, persaingan politik, dan diplomasi internasional yang membentuk perjalanan sejarah Indonesia. Sejalan dengan tema Indonesian Economic and Management History: Lessons for the Future, kegiatan ini mendorong peserta untuk menjadikan sejarah sebagai sumber pembelajaran dalam memahami tantangan dan merancang pembangunan Indonesia di masa depan. (AR, 2026)





Users Today : 98
Users Yesterday : 290
Users Last 7 days : 4862
Users This Month : 10057
Users This Year : 96635
Total Users : 161833
Who's Online : 0