Departemen Manajemen

Hari Ketujuh International Short Course 2026 Membahas Ekonomi Pancasila dan Good Samaritan Economics

Picture18

Hari Ketujuh International Short Course 2026 Membahas Ekonomi Pancasila dan Good Samaritan Economics

Bogor, 10 Agustus 2026 – Ekonomi tidak hanya berbicara tentang pasar, harga, dan pertumbuhan. Di balik aktivitas ekonomi terdapat persoalan mengenai kesejahteraan, keadilan, kepedulian, dan bagaimana manfaat pembangunan dapat dirasakan oleh masyarakat. Perspektif tersebut menjadi bagian dari pembelajaran hari ketujuh International Short Course 2026 bertema Indonesian Economic and Management History: Lessons for the Future.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University bekerja sama dengan Leibniz University of Hannover, University of Passau, dan Universitas Padjadjaran menghadirkan Dr. Sirman Purba, Chairman LEMHADES (Lembaga Ketahanan Desa), melalui pembahasan People’s Economy (Ekonomi Pancasila) and Good Samaritan Economics.

Dalam pembahasannya, Dr. Sirman memperkenalkan cara pandang bahwa ekonomi memiliki cakupan yang lebih luas dari sekadar pasar, harga, dan pertumbuhan. Gagasan “Economics is more than the study of markets, prices, and economic growth” menjadi pengantar untuk melihat bahwa aktivitas ekonomi juga berkaitan dengan moralitas, solidaritas, dan keadilan sosial.

Perspektif tersebut kemudian dibahas melalui Ekonomi Pancasila, yang menempatkan efisiensi ekonomi bersama nilai demokrasi, solidaritas, dan keadilan sosial. Prinsip asas kekeluargaan dalam Pasal 33 UUD 1945 serta koperasi menjadi contoh bagaimana kepentingan bersama dapat ditempatkan dalam kehidupan ekonomi.

Pembahasan kemudian berkembang melalui konsep Good Samaritan Economics, yang membawa nilai compassion, altruism, dan moral responsibility ke dalam pemikiran ekonomi. Melalui konsep ini, peserta melihat bahwa keputusan ekonomi tidak selalu harus berangkat dari kepentingan pribadi, tetapi juga dapat didorong oleh kepedulian terhadap orang lain dan kelompok yang membutuhkan.

Gagasan tersebut diperkuat melalui Hybrid Model of Good Samaritan Economics, yang memadukan kepedulian sosial dengan mekanisme pasar dan kelembagaan masyarakat. Program “Eggs for the World” menjadi salah satu contoh bagaimana kegiatan ekonomi desa dapat dikembangkan sekaligus untuk membantu mengatasi kemiskinan dan kekurangan gizi. Sementara itu, konservasi kopi Typica di Toba Caldera menunjukkan bagaimana kegiatan ekonomi dapat berjalan berdampingan dengan upaya menjaga sumber daya lokal dan lingkungan.

Dari persoalan ekonomi dan kesejahteraan, pembelajaran kemudian kembali membawa peserta pada sejarah melalui Colonial Role Play: Indonesia v. The Netherlands. Dalam simulasi persidangan International Court of Justice (ICJ), peserta menempatkan diri sebagai tokoh-tokoh yang memiliki kepentingan dan pandangan berbeda terhadap persoalan kolonialisme. Kasus yang diangkat mempertanyakan tanggung jawab Belanda atas kerugian kesejahteraan yang ditimbulkan oleh kolonialisme, dengan pihak Indonesia mengajukan klaim sekitar USD 31 miliar sebagai estimasi welfare loss.

Persidangan menghadirkan Agung Setiawan sebagai President of ICJ (Head Judge), bersama Fatimah Az-Zahra dan Puan Siti Nur Fadil sebagai Assistant Head Judges. Dari pihak Indonesia, Muhammad Faza Hanifan berperan sebagai President of Indonesia, sementara Cut Azhirah Apriadina tampil sebagai Sociology Professor from Thailand. Pihak Belanda diperankan oleh Sakti Buwono Rachman sebagai King of the Netherlands dan Vyny Claudine Eunike sebagai Economics Professor from Switzerland.

Persidangan juga menghadirkan sejumlah tokoh sejarah. Widi Riski Pebianti memerankan Pangeran Diponegoro dengan membawa kesaksian mengenai persoalan tanah dan penderitaan masyarakat dalam Perang Jawa. Danang Hendrajati tampil sebagai Cokroaminoto, membawa perspektif mengenai kesadaran nasional dan hak ekonomi pribumi, sedangkan Bambang Yulianto memerankan Soekarno dengan membawa isu kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia.

Dari sisi kolonial, Lidwina Christantia Sitanggang memerankan Jan Pieterszoon Coen, yang membawa perspektif mengenai perdagangan dan monopoli VOC. Muhammad Shira Pramudita tampil sebagai Douwes Dekker (Multatuli) dengan pandangan kritis terhadap sistem kolonial, sementara Kanaya Zharfa Kiasati memerankan Herman Willem Daendels, dengan pembahasan mengenai pembangunan Jalan Raya Pos dan persoalan kerja paksa.

Perdebatan kemudian memperlihatkan bahwa menilai dampak kolonialisme bukan persoalan sederhana. Pihak Belanda mempertanyakan dasar perhitungan klaim USD 31 miliar serta bagaimana kondisi ekonomi Indonesia dapat diperkirakan apabila kolonialisme tidak pernah terjadi. Di sisi lain, pihak Indonesia menekankan bahwa kesulitan menghitung kerugian secara pasti tidak berarti dampak sosial dan ekonomi kolonialisme dapat diabaikan.

Melalui simulasi tersebut, sejarah tidak lagi hanya dipelajari sebagai rangkaian peristiwa, tetapi dilihat dari berbagai kepentingan dan sudut pandang. Peserta dapat melihat bagaimana kekuasaan, ekonomi, perdagangan, pembangunan, dan kesejahteraan masyarakat saling berkaitan dalam membentuk suatu keputusan dan dampaknya.

Hari ketujuh akhirnya mempertemukan dua perspektif yang saling melengkapi. Good Samaritan Economics menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi memiliki dimensi kemanusiaan, sementara Colonial Role Play memperlihatkan bagaimana keputusan ekonomi dan politik pada masa lalu dapat menghasilkan dampak yang dirasakan lintas generasi.

Sejalan dengan tema Indonesian Economic and Management History: Lessons for the Future, pembelajaran hari ketujuh mengingatkan bahwa ekonomi pada akhirnya berbicara tentang manusia. Memahami sejarah berarti tidak hanya melihat bagaimana ekonomi tumbuh, tetapi juga mempertanyakan siapa yang memperoleh manfaat, siapa yang menanggung dampak, dan bagaimana keputusan masa lalu membentuk kehidupan masyarakat hingga hari ini.(AR, 2026)

November 2026
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Archives

Translate »