Hari Terakhir International Short Course 2026 Jadi Ruang Refleksi, Presentasi, dan Apresiasi
Hari Terakhir International Short Course 2026 Jadi Ruang Refleksi, Presentasi, dan Apresiasi
Bogor, 13 Agustus 2026 – Sepuluh hari perjalanan International Short Course 2026 akhirnya sampai pada penghujung kegiatan. Mengusung tema Indonesian Economic and Management History: Lessons for the Future, hari terakhir menjadi ruang bagi peserta untuk melihat kembali pengetahuan, pengalaman, dan berbagai perspektif yang telah mereka temukan sepanjang program.
Diselenggarakan oleh Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University bekerja sama dengan Leibniz University of Hannover, University of Passau, dan Universitas Padjadjaran, program ini membawa peserta menelusuri perjalanan ekonomi dan manajemen Indonesia dari masa ke masa. Pembelajaran dimulai dari kondisi geografis dan ekonomi Asia Tenggara, jaringan perdagangan, pengaruh Eropa dan Tiongkok, hingga kolonialisme, VOC, dan terbentuknya Hindia Belanda. Perjalanan tersebut berlanjut pada pendudukan Jepang, kemerdekaan Indonesia, masa Soekarno, Orde Baru, sejarah moneter, Asian Financial Crisis, hingga Reformasi.

Pembelajaran kemudian berkembang pada persoalan yang lebih dekat dengan tantangan saat ini, seperti Ekonomi Pancasila, Good Samaritan Economics, pertanian berkelanjutan, Global Value Chains, gotong royong, serta hubungan antara sejarah dan pembangunan masa depan. Berbagai pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan ekonomi Indonesia tidak pernah berdiri sendiri, tetapi selalu berkaitan dengan politik, masyarakat, lingkungan, serta perubahan ekonomi global.
Pemahaman tersebut juga diperkuat melalui kunjungan ke Kebun Raya Bogor, Museum Tanah dan Pertanian, Museum Bank Indonesia, dan Museum Sejarah Jakarta. Di tempat-tempat tersebut, peserta melihat secara langsung bagaimana sumber daya alam, pertanian, sistem moneter, perdagangan, dan perkembangan kota meninggalkan jejak dalam perjalanan sejarah Indonesia.
Pengalaman belajar juga hadir melalui Colonial Role Play: Indonesia v. The Netherlands. Dalam simulasi persidangan International Court of Justice (ICJ), peserta mengambil peran sebagai berbagai tokoh dan pihak dengan kepentingan yang berbeda untuk membahas dampak kolonialisme terhadap kesejahteraan Indonesia. Melalui pengalaman tersebut, sejarah tidak hanya dipahami sebagai kronologi, tetapi juga sebagai persoalan yang dapat dilihat dari sisi ekonomi, sosial, politik, dan hukum.
Seluruh pengalaman tersebut kemudian bertemu dalam presentasi kelompok pada hari terakhir. Peserta menyampaikan kembali hasil pembahasan dan pemahaman yang mereka peroleh selama program. Presentasi menjadi ruang untuk melihat bagaimana peserta menghubungkan berbagai peristiwa sejarah dengan kondisi ekonomi serta persoalan pembangunan Indonesia saat ini.
Bagi peserta, perjalanan selama sepuluh hari memberikan perspektif bahwa sejarah ekonomi bukan sekadar tentang angka, kebijakan, atau peristiwa masa lalu. Di balik setiap perubahan terdapat keputusan, kepentingan, serta dampak yang dirasakan masyarakat. Dari sinilah sejarah menjadi relevan untuk memahami persoalan ekonomi yang dihadapi saat ini.
Hal tersebut tercermin dalam hasil evaluasi yang dilakukan pada akhir program. Sebanyak 25 peserta yang mengikuti kegiatan secara offline mengisi online evaluation form untuk memberikan penilaian dan masukan terhadap pengalaman mereka selama International Short Course 2026. Secara keseluruhan, program memperoleh rata-rata kepuasan sebesar 4,73 dari skala 5 dan berada dalam kategori “Sangat Baik”.
Dari berbagai aspek yang dinilai, Instructor/Facilitator memperoleh skor rata-rata 4,77, Course Content & Materials sebesar 4,71, dan Logistics & Facilities sebesar 4,66. Sementara itu, penilaian keseluruhan terhadap program mencapai 4,80. Hasil tersebut menunjukkan apresiasi peserta terhadap kualitas pembelajaran, narasumber, materi, serta pengalaman yang mereka peroleh selama mengikuti program.
Interaksi dengan peserta dari berbagai universitas dan negara juga menjadi salah satu bagian yang memperkaya pengalaman. Perpaduan antara pembelajaran di kelas, diskusi, site visit, dan aktivitas berbasis pengalaman membuat peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga memiliki kesempatan untuk melihat dan mendiskusikannya dari berbagai perspektif.
Di samping apresiasi, evaluasi juga menjadi ruang untuk melihat hal-hal yang masih dapat dikembangkan. Peserta menyampaikan harapan agar program berikutnya dapat menghadirkan lebih banyak diskusi kelompok, studi kasus, dan aktivitas interaktif, serta menyediakan materi lebih awal agar peserta memiliki waktu yang lebih cukup untuk mempersiapkan diri. Masukan tersebut menjadi bagian penting untuk pengembangan pelaksanaan International Short Course di masa mendatang.
Menariknya, pengalaman selama program juga mendorong peserta untuk melihat lebih jauh berbagai isu yang ingin mereka pelajari. Pertanian berkelanjutan dan ketahanan pangan, ekonomi digital dan artificial intelligence, serta ekonomi global dan geopolitik menjadi beberapa bidang yang banyak diminati. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran sejarah justru membuka ruang bagi peserta untuk memahami persoalan ekonomi yang sedang berkembang dan memikirkan tantangan yang mungkin dihadapi di masa depan.
Selain evaluasi program, peserta juga melalui penilaian akademik yang mencakup partisipasi, examination, presentation, dan paper. Dari 62 peserta, tercatat 22 peserta memperoleh predikat Excellent (A). Hasil tersebut menjadi bagian dari keseluruhan evaluasi akademik selama program.
Setelah seluruh rangkaian pembelajaran selesai, suasana penutupan menjadi semakin hangat melalui sesi apresiasi. Penghargaan diberikan kepada peserta sebagai bentuk penghormatan atas partisipasi, kontribusi, dan antusiasme mereka selama sepuluh hari. Apresiasi khusus juga diberikan kepada Prof. Hermann Waibel atas kontribusinya sebagai narasumber utama yang telah mendampingi peserta dalam memahami perjalanan sejarah ekonomi Indonesia sekaligus menghubungkannya dengan berbagai tantangan pembangunan di masa depan.
Bagi peserta, kehadiran Prof. Waibel tidak hanya menghadirkan pengetahuan mengenai sejarah ekonomi, tetapi juga cara pandang untuk melihat hubungan antara masa lalu, keputusan ekonomi, dan masa depan. Melalui berbagai pembahasan, peserta diajak untuk tidak berhenti pada pertanyaan mengenai what happened, tetapi juga memahami why it happened dan what we can learn from it.
Pemberian sertifikat kemudian menjadi simbol berakhirnya perjalanan akademik yang telah dilalui bersama. Namun, penutupan tersebut bukan sekadar akhir dari sebuah program. Selama sepuluh hari, peserta telah belajar di ruang kelas, mengunjungi berbagai situs sejarah, berdiskusi dengan peserta dari latar belakang berbeda, memainkan peran sebagai tokoh sejarah, hingga menyampaikan kembali hasil pembelajaran mereka.
Pada akhirnya, International Short Course 2026 meninggalkan lebih dari sekadar pengetahuan mengenai sejarah ekonomi Indonesia. Program ini memberikan perspektif bahwa setiap perubahan memiliki konteks, setiap kebijakan memiliki konsekuensi, dan setiap pengalaman masa lalu dapat menjadi bahan untuk mengambil keputusan yang lebih baik.
Sejalan dengan tema Indonesian Economic and Management History: Lessons for the Future, sepuluh hari perjalanan ini menjadi pengingat bahwa mempelajari sejarah bukan tentang tinggal di masa lalu, tetapi tentang memahami bagaimana masa lalu membentuk hari ini dan bagaimana pelajarannya dapat digunakan untuk menghadapi masa depan.
Sepuluh hari telah berakhir, tetapi pembelajaran tidak berhenti di sini. Pengetahuan, pengalaman, relasi, dan cerita yang terbentuk selama program diharapkan terus dibawa peserta dalam perjalanan akademik maupun profesional yang lebih maju.(AR, 2026)







Users Today :
Users Yesterday :
Users Last 7 days :
Users This Month :
Users This Year :
Total Users : 190458
Who's Online :