Departemen Manajemen

International Short Course 2026 Bahas Perubahan Ekonomi Indonesia dan Tantangan Pembangunan Berkelanjutan

Picture19

International Short Course 2026 Bahas Perubahan Ekonomi Indonesia dan Tantangan Pembangunan Berkelanjutan

Bogor, 11 Agustus 2026 –  Krisis ekonomi dapat menjadi titik balik yang mengubah arah sebuah negara. Bagi Indonesia, krisis finansial Asia 1997–1998 tidak hanya membawa tekanan terhadap perekonomian, tetapi juga menjadi bagian dari perubahan besar yang mengantarkan Indonesia memasuki era Reformasi. Perjalanan tersebut menjadi pembahasan pada hari kedelapan International Short Course 2026 bertema Indonesian Economic and Management History: Lessons for the Future.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University bekerja sama dengan Leibniz University of Hannover, University of Passau, dan Universitas Padjadjaran kembali menghadirkan Prof. Hermann Waibel dari Leibniz University of Hannover. Pembelajaran membahas periode setelah Asian Financial Crisis dan Reformasi, kemudian berkembang pada isu pertanian berkelanjutan, Global Value Chains, serta collective action atau gotong royong.

Pembahasan mengenai Reformasi membawa peserta melihat kembali perubahan Indonesia setelah berakhirnya pemerintahan Soeharto. Demokratisasi, desentralisasi, kebebasan pers, serta reformasi kelembagaan menjadi bagian dari perubahan yang terjadi. Kewenangan administratif dan pengelolaan pendapatan juga semakin banyak diberikan kepada pemerintah daerah, sementara berbagai lembaga baru dibentuk untuk memperkuat sistem demokrasi dan pemerintahan.

Perubahan politik tersebut tidak dapat dilepaskan dari kondisi ekonomi. Krisis 1997–1998 menyebabkan rupiah mengalami tekanan besar dan mendorong restrukturisasi perbankan serta perubahan kebijakan moneter. Dalam periode Reformasi, Bank Indonesia memperoleh independensi secara hukum melalui Undang-Undang Bank Indonesia 1999 dengan mandat menjaga stabilitas rupiah. Kebijakan moneter kemudian berkembang hingga penerapan Inflation Targeting Framework pada 2005.

Pembahasan mengenai moneter kemudian membawa peserta melihat bahwa sistem keuangan Indonesia memiliki sejarah yang panjang. Perjalanan uang, bank, dan bank sentral menunjukkan bagaimana institusi keuangan berkembang mengikuti perubahan ekonomi dan politik. Dari fungsi uang dalam kegiatan ekonomi hingga peran bank sentral dalam menjaga stabilitas harga, mengelola cadangan devisa, dan mengatur jumlah uang yang beredar, sistem moneter menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan aktivitas ekonomi.

Jejak perkembangan tersebut juga dapat ditelusuri sejak masa kolonial. VOC menggunakan berbagai jenis mata uang untuk mendukung aktivitas perdagangan, sementara De Javasche Bank kemudian berperan sebagai bank sirkulasi pada masa Hindia Belanda. Setelah kemerdekaan, Indonesia menerbitkan ORI pada 1946 dan menasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia pada 1953. Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana sistem moneter ikut berubah seiring dengan perubahan politik dan kedaulatan Indonesia.

Dari persoalan moneter, pembelajaran kemudian bergerak pada tantangan pembangunan pertanian yang lebih berkelanjutan. Melalui topik Sustainable Agriculture, Global Value Chains, and Collective Action Programs (Gotong Royong), peserta melihat bahwa pertanian tidak hanya berkaitan dengan seberapa banyak hasil yang diproduksi, tetapi juga bagaimana produk tersebut terhubung dengan petani, pengolahan, distribusi, hingga pasar dalam rantai nilai yang lebih luas.

Dalam konteks tersebut, konsep collective action atau gotong royong menjadi semakin relevan. Tantangan pembangunan tidak selalu dapat diselesaikan oleh satu pihak. Kerja sama antara masyarakat, pelaku usaha, pemerintah, dan berbagai kelompok menjadi penting untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memastikan sumber daya dapat dikelola secara berkelanjutan.

Dari Reformasi hingga pertanian berkelanjutan, peserta melihat adanya satu benang merah: perubahan ekonomi membutuhkan kemampuan untuk beradaptasi sekaligus mempertimbangkan dampaknya dalam jangka panjang. Krisis menunjukkan pentingnya kebijakan dan institusi yang kuat, sementara pengalaman pembangunan pertanian menunjukkan bahwa produktivitas perlu berjalan bersama keberlanjutan dan kerja sama.

Sejalan dengan tema Indonesian Economic and Management History: Lessons for the Future, hari kedelapan mengajak peserta melihat bahwa pengalaman masa lalu bukan hanya catatan sejarah. Krisis ekonomi, perubahan kebijakan, perkembangan sistem moneter, hingga tantangan pertanian memberikan pelajaran mengenai pentingnya kebijakan yang adaptif, institusi yang kuat, kerja sama, dan pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab dalam membangun masa depan Indonesia. (AR, 2026)

November 2026
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Archives

Translate »