Departemen Manajemen

International Short Course 2026 Mengajak Peserta Melihat Kembali Green Revolution hingga Tantangan Masa Depan

Picture22

International Short Course 2026 Mengajak Peserta Melihat Kembali Green Revolution hingga Tantangan Masa Depan

Bogor, 12 Agustus 2026 – Sejarah mungkin tidak terulang dengan cara yang sama, tetapi pola dan persoalan yang pernah muncul dapat kembali hadir dalam bentuk yang berbeda. Gagasan tersebut menjadi benang merah pembelajaran hari kesembilan International Short Course 2026 bertema Indonesian Economic and Management History: Lessons for the Future bersama Prof. Hermann Waibel dari Leibniz University of Hannover.

Pembelajaran membawa peserta melihat kembali perjalanan Green Revolution di Indonesia. Program Bimas yang dimulai pada 1967, penyebaran varietas IR8, pembangunan irigasi, hingga pengembangan industri pupuk menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas pertanian. Perjalanan tersebut mencapai salah satu tonggak penting ketika Indonesia berhasil mencapai swasembada beras pada 1984.

Namun, peningkatan produksi juga membawa persoalan baru. Penggunaan pupuk dan pestisida secara berlebihan kemudian dikaitkan dengan degradasi tanah dan pencemaran air. Dari pengalaman tersebut, pendekatan pertanian mulai berkembang ke arah yang lebih berkelanjutan melalui Integrated Crop Management (PTT), System of Rice Intensification (SRI), Jajar Legowo, digitalisasi pertanian, hingga precision agriculture.

Pembahasan kemudian meluas pada Global Value Chains (GVC) dan perkembangan kelapa sawit Indonesia. Sebuah komoditas tidak berhenti pada proses produksi, tetapi bergerak melalui berbagai tahapan, mulai dari bahan baku, pengolahan, distribusi, hingga konsumsi. Karena itu, tantangan Indonesia bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat downstreaming, meningkatkan nilai tambah, dan memastikan petani memperoleh posisi yang lebih baik dalam rantai nilai global.

Kelapa sawit menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah komoditas berkembang mengikuti perubahan ekonomi. Dari pengenalan tanaman sawit di Kebun Raya Bogor pada 1848, berkembang menjadi perkebunan komersial di Sumatra, hingga Indonesia menjadi produsen CPO terbesar dunia pada 2006. Perkembangan tersebut kemudian diikuti dengan perhatian yang semakin besar terhadap keberlanjutan melalui penerapan standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan kebijakan moratorium pembukaan perkebunan baru.

Dari pengalaman pertanian dan komoditas tersebut, Prof. Waibel membawa pembahasan pada pertanyaan yang lebih besar: apakah sejarah akan terulang? Melalui ungkapan “History does not repeat itself, but it often rhymes,” peserta diajak memahami bahwa masa lalu mungkin tidak muncul kembali dengan cara yang persis sama. Namun, pola perilaku manusia seperti ketakutan, ambisi, keserakahan, dan kepentingan dapat kembali memengaruhi keputusan di masa depan.

Karena itu, sejarah tidak digunakan untuk meramalkan masa depan secara pasti, melainkan untuk mengenali tren berbahaya, risiko sistemik, dan kesalahan yang mungkin kembali terjadi. Pengalaman masa lalu menjadi bahan untuk mempertimbangkan konsekuensi sebelum mengambil keputusan baru.

Pembahasan kemudian diarahkan pada berbagai kemungkinan masa depan Asia Tenggara, terutama terkait perubahan iklim, ketahanan pangan, energi bersih, geopolitik, dan hubungan Amerika Serikat–China. Dalam skenario optimistis, kawasan ASEAN memiliki peluang memperkuat kerja sama, mengembangkan energi terbarukan, serta memanfaatkan China Plus One untuk meningkatkan kapasitas industri dan teknologi.

Sebaliknya, skenario yang lebih pesimistis menunjukkan risiko apabila perubahan iklim dan ketegangan geopolitik tidak dikelola dengan baik. Krisis pangan, gangguan rantai pasok, meningkatnya risiko bencana, hingga fragmentasi kawasan menjadi tantangan yang perlu diperhitungkan.

Hari kesembilan akhirnya menjadi ruang refleksi bahwa setiap keberhasilan pembangunan dapat membawa konsekuensi yang perlu diantisipasi. Green Revolution menunjukkan bagaimana teknologi dapat meningkatkan produksi, tetapi juga mengingatkan pentingnya keberlanjutan. Perkembangan komoditas dan GVC menunjukkan peluang ekonomi, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan mengenai lingkungan, nilai tambah, dan posisi pelaku usaha kecil.

Sejalan dengan tema Indonesian Economic and Management History: Lessons for the Future, pembelajaran hari kesembilan menegaskan bahwa sejarah bukan untuk diulang, tetapi untuk dipahami. Dengan mengenali pola, risiko, dan konsekuensi dari masa lalu, pengalaman sejarah dapat menjadi dasar untuk membuat keputusan yang lebih bijaksana dalam menghadapi tantangan ekonomi dan pembangunan di masa depan. (AR, 2026)

November 2026
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Archives

Translate »