Departemen Manajemen

International Short Course 2026 Mengulas Perjalanan Indonesia Menuju Kemerdekaan dan Modernisasi

Picture9

International Short Course 2026 Mengulas Perjalanan Indonesia Menuju Kemerdekaan dan Modernisasi

Bogor, 07 Agustus 2026 – Perjalanan Indonesia menuju kemerdekaan tidak berhenti pada berakhirnya pendudukan dan kolonialisme. Setelah merdeka, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dalam menentukan arah politik dan membangun perekonomiannya. Perjalanan panjang tersebut menjadi pembahasan pada hari kelima International Short Course 2026 bertema Indonesian Economic and Management History: Lessons for the Future. Bersama Prof. Hermann Waibel dari Leibniz University of Hannover, peserta diajak menelusuri perubahan politik dan ekonomi Indonesia, mulai dari pendudukan Jepang hingga Asian Financial Crisis.

Periode pendudukan Jepang pada 1942–1945 menjadi salah satu bagian penting dalam pembelajaran. Peserta melihat bagaimana Jepang mengambil alih berbagai struktur ekonomi peninggalan kolonial Belanda dan mengendalikan industri strategis seperti minyak, pertambangan, serta komunikasi. Produksi dan sumber daya juga diarahkan untuk memenuhi kebutuhan perang, termasuk pangan, bahan bakar, bahan mentah, dan tenaga kerja. Di sisi lain, periode ini turut membawa perubahan dalam administrasi, pelatihan militer, dan perkembangan gerakan nasionalisme yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan menuju kemerdekaan.

Setelah Jepang menyerah, tantangan Indonesia tidak serta-merta berakhir. Proklamasi kemerdekaan pada 1945 diikuti dengan perjuangan mempertahankan kedaulatan melalui pertempuran, diplomasi, dan tekanan internasional. Pertempuran Surabaya, Perjanjian Linggarjati, agresi militer Belanda, hingga perjuangan gerilya menjadi bagian dari proses panjang sebelum akhirnya Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Indonesia pada 27 Desember 1949.

Memasuki masa pemerintahan Soekarno, peserta kemudian melihat bagaimana Indonesia berusaha membangun identitas dan arah politiknya sebagai negara yang baru merdeka. Pancasila, Nasakom, dan Marhaenisme menjadi bagian dari gagasan yang dibahas, bersama dengan posisi Indonesia dalam politik internasional melalui Konferensi Asia-Afrika 1955. Konferensi tersebut memperkuat peran Indonesia bersama negara-negara Asia dan Afrika dalam menentang kolonialisme dan mendorong kerja sama internasional.

Di tengah dinamika politik tersebut, persoalan ekonomi menjadi tantangan yang semakin besar. Prof. Waibel menggunakan ungkapan “National Pride over Economics” sebagai refleksi mengenai kondisi ketika kebanggaan dan kepentingan nasional lebih diutamakan dibandingkan pertimbangan ekonomi. Ketegangan antara kepentingan politik dan pengelolaan ekonomi tersebut kemudian turut dikaitkan dengan memburuknya kondisi perekonomian Indonesia pada akhir masa pemerintahan Soekarno.

Persoalan pembangunan juga dilihat dari sisi yang lebih kritis. Melalui ungkapan “Monuments don’t produce”, Prof. Waibel mengingatkan bahwa pembangunan tidak cukup hanya menghasilkan bangunan atau simbol kemajuan, tetapi harus mampu menciptakan produktivitas dan nilai ekonomi. Sementara itu, “Natural Resources deplete” menjadi pengingat bahwa sumber daya alam memiliki keterbatasan sehingga pemanfaatannya perlu dilakukan secara bijaksana dan berkelanjutan.

Pembahasan kemudian berlanjut pada masa Orde Baru, sejarah moneter, hingga Asian Financial Crisis. Perjalanan tersebut menunjukkan bagaimana stabilitas ekonomi, kebijakan moneter, dan kondisi ekonomi global dapat memengaruhi arah pembangunan Indonesia. Krisis finansial Asia menjadi salah satu contoh bahwa perekonomian nasional tidak berdiri sendiri, tetapi selalu terhubung dengan dinamika ekonomi regional dan global.

Melalui perjalanan dari pendudukan Jepang hingga krisis ekonomi, peserta melihat bahwa sejarah Indonesia dibentuk oleh hubungan yang erat antara politik, perang, diplomasi, kebijakan ekonomi, dan perubahan global. Setiap periode menghadirkan keputusan yang membawa konsekuensi berbeda bagi masyarakat dan pembangunan negara.

Sejalan dengan tema Indonesian Economic and Management History: Lessons for the Future, hari kelima mengajak peserta melihat sejarah bukan hanya sebagai rangkaian peristiwa, tetapi sebagai bahan untuk memahami konsekuensi dari berbagai pilihan yang pernah diambil. Dari pengalaman tersebut, peserta diajak mempertimbangkan bagaimana Indonesia dapat membangun perekonomian yang lebih produktif, stabil, dan berkelanjutan di masa depan. (AR, 2026)

November 2026
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Archives

Translate »