SAMI 2026 Membahas Kerangka ESG dalam Rantai Pasok Agrifood Berkelanjutan
SAMI 2026 Membahas Kerangka ESG dalam Rantai Pasok Agrifood Berkelanjutan
Bogor, 30 Juli 2026. Pada Kamis 30 Juli 2026, pelaksanaan SAMI memasuki hari keempat yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting. Tema hari keempat berfokus pada eksplorasi kerangka Environmental, Social, and Governance (ESG), tata kelola kelapa sawit dalam sektor pangan dan energi, serta rantai pasok agrifood yang berkelanjutan.

Rangkaian kegiatan dimulai pukul 08.00–09.30 WIB melalui Course 8 yang berfokus pada tata kelola kelapa sawit dan integrasi ESG. Sesi ini dimoderatori oleh Stevia Septiani, S.E., M.Si., dengan Dr. M. Windrawan Inantha, Strategic Advisor CECT Sustainability Universitas Trisakti sekaligus advisor bagi perusahaan kelapa sawit di Indonesia, sebagai pembicara utama. Pembicara menekankan bahwa kelapa sawit secara bersamaan berperan dalam empat sistem yang saling terhubung, yaitu pangan, bahan bakar, keuangan, dan kepercayaan publik. Ia membahas transisi menuju mandat biodiesel B50 yang mulai diterapkan pada Juli 2026 serta menekankan pentingnya mempertahankan peran utama kelapa sawit sebagai sumber pangan yang terjangkau dan aman, sekaligus menjaga ketahanan energi. Dr. Win juga menekankan pentingnya inklusi petani kecil yang berkontribusi sekitar 40% terhadap produksi nasional, serta menyerukan kerangka tata kelola yang selaras antarlembaga untuk menyelaraskan standar nasional seperti ISPO dengan ekspektasi pasar global.

Kegiatan dilanjutkan pada pukul 10.30–12.00 WIB melalui Course 9 yang mengangkat tema kerangka ESG dan rantai pasok agrifood berkelanjutan. Sesi ini dimoderatori oleh Andita Ramadhanti, S.E., M.M.T., dan menghadirkan Dr. Eko Cahyadi, seorang ahli dalam manajemen rantai pasok agrifood berkelanjutan. Dr. Eko membahas dinamika rantai pasok “farm-to-table” melalui dua komoditas ekspor utama Indonesia, yaitu kelapa sawit dan udang. Ia menjelaskan paradoks sektor agrifood yang berperan dalam memenuhi kebutuhan pangan populasi dunia, tetapi pada saat yang sama menimbulkan tekanan lingkungan, seperti konversi hutan mangrove dan degradasi lahan gambut. Lebih lanjut, Dr. Eko memandang ESG sebagai perspektif penting dalam mengidentifikasi dan mengelola risiko. Ia menunjukkan bahwa ketertelusuran, integritas data, dan tata kelola yang kuat dapat menurunkan biaya modal, mengelola risiko regulasi seperti EUDR, serta memastikan keberlanjutan akses dan keberlangsungan operasional di pasar. (SAMI, 2026).





Users Today : 439
Users Yesterday : 258
Users Last 7 days : 2162
Users This Month : 5826
Users This Year : 103588
Total Users : 168786
Who's Online : 3